Journey Of Life

Desember, sebagai tanda dari akhir tahun menuju awal tahun yang baru. Jari jemari ini serasa sudah lama lagi tidak berceloteh dengan berbagai bait-bait kata yang biasa kesenandungkan dalam goresan tulisan tanganku.

Masih terlalu pagi buta, suasana udara yang sangat dingin merasuk kedalam sukma jiwa hingga tulang belulang terasa kaku untuk digerakkan. Namun dalam balutan selimut sedikit memberi kehangatan bagi tubuh yang serasa ingin membeku.

Terdengar suara gemuru dari atap rumah, rupanya pagi ini hujan turun lagi untuk menyapa para penghuni bumi yang sedang dalam cengkrama alam yang berbeda-beda. Mungkinkah langit begitu sangat merindukan bumi hingga tangisannya tiada henti menghantam penjuru bumi ini. Yah! mungkin itu adalah rindu.

Desember 2018, penghujungmu sebentar lagi akan tiba sebelumnya aku berfikir engkau begitu merindukan bumi hingga tetesanmu tiada henti terus menyapa. Namun berbagai peristiwa yang terjadi menghantam begitu dasyatnya diberbagai titik penjuru bumi membalikkan pikiranku bahwa itu bukan hanya sekedar sapaan rindu semata tetapi adalah awal dari peringatan-peringatan dari yang Kuasa untuk kesekian kalinya kepada para penghuni bumi sebagai bentuk dekapan, ujian, kasih sayang dan cintaNya untuk semakin bermusahabah diri bermunajat kepadaNya.

Terlepas dari berbagai peristiwa yang begitu dasyatnya terjadi menghantam dan memporak-porandakan penjuru bumi dengan meninggalkan berbagai hikmah yang sangat luar biasa, walaupun duka, luka dan kesedihan masih terus tertancap di dalam setiap sanubari hati para penduduk bumi ini yang kehilangan akan berbagai hal. Namun apa yang terjadi adalah kehendak dari sang Khaliq sebagai bentuk ujian bagi yang bertaqwa, teguran bagi yang berdosa, azab bagi yang durhaka dan peringatan bagi yang tidak terkena segala bencana alam yang terus terjadi.

Penghujung tahun ini telah tiba, hitungan jam akan memasuki lembaran yang baru. Ada rasa haru berkecamuk dalam jiwa tahun demi tahun terlewati dengan begitu cepat dengan segala lembaran cerita hidup yang tercatat di penjuru langit dan bumi mewarnai setiap perjalanannya. Tangis, tawa, sedih, bahagia, susah, senang, marah, kecewa, kehilangan dan bahkan sakit itu adalah bumbu klimaks bagi Kehidupan.

Terlepas dari itu rasa syukur kepadaNya atas segala hal yang telah terlewati, atas segala nikmat hidup yang begitu besar, kesempatan untuk masih bisa menghirup udara dunia, kesempatan untuk belajar menata diri dan kesempatan untuk lebih bermusahabah diri. Sungguh KekuasaanNya meliputi langit dan bumi ini.

Berbagai Lembaran cerita telah terlewati hingga menyisahkan berbagai puing-puing kenangan dalam setiap ruang geraknya. Kau akan tetap terkenang dalam ruang memoriku tersimpan rapi dalam kotak kenangan dan rindu. Langkah kakiku akan beranjak pada lembaran baru namun tidak meninggalkanmu hanya saja memperbaiki setiap pecahan-pecahan diri yang masih belum tertata rapi.

Terimakasih pada lembaran cerita dan kenangan yang telah terlewati. Selamat datang untuk lembaran cerita yang baru.

Alhamdulillah, selamat tinggal, terimakasih dan selamat datang, kisah perjalanan Kehidupan.

Advertisements

La Tahzan

BUKU LA TAHZAN
Sebuah buku karangan dari seorang penulis hebat DR. ‘Aidh al-Qarni dengan sangat jeniusnya menyajikan tulisan yang memberikan mamfaat dan motivasi yang sangat luar biasa untuk sebuah kehidupan. Buku Latahzan yang artinya jangan bersedih ini membahas tentang bagaimana kita menjalani kehidupan dengan selalu bersyukur, berbuat baik, sabar, ikhlas, lapang dada dalam kondisi apapapun sebab Allah selalu bersama dengan para hamba-hambanya.
Buku Latahzan yang sejak menempuh pendidikan di tingkat SMA sudah aku miliki, salah satu buku yang memiliki ketebalan luar biasa namun menjadi candu bagi para pembacanya salahnya satunya aku. Pada masa SMA buku ini hanya menjadi sebuah pajangan di kamar tidurku bukan karena tidak ingin aku membacanya namun waktuku dihabiskan dengan bacaan-bacaan novel-novel remaja pada saat itu.
Pada masa jenjang kuliah dalam masa-masa awal proses perbaikan diri buku ini yang menjadi teman pada sebagian waktuku, salah satu buku terlama yang saya miliki sangat memberikan dorongan yang lebih kuat dalam menjalani fase kehidupan walaupun sampai hari ini bukunya belum diselesaikan dengan tuntas. La Tahzan menjadi candu bagi pembaca seperti saya, buku yang memiliki ketebalan hampir 600 halaman dengan sub-sub cerita yang berbeda pada setiap halamanya yang paling menarik juga terdapat sub rehat yang merangkum keseluruhan dari sub cerita yang membuat pembaca menjadi lebih paham.
La Tahzan sebagai salah satu buku pencerahan hati yang menawarkan terapih yang lebih dekat dengan Al-Qur’an dan Sunnah juga mengajarkan bagi para pembacanya bahwa dalam keadaan apapun Allah selalu bersama dengan para hambanya maka dari itu jangan bersedih sesulit apapun itu karena setelah hujan pasti akan ada pelangi. Sabar adalah kuncinya dan doa adalah jawabannya.
#KelasLiteraPandita #TantanganPertama

SEPERLOS, MA’ASING dan MA’BOI
Bernostaliga kembali dari sekian banyak permainan pada masa lalu saya memilih untuk bercerita tentang permainan diatas karena bagi saya ini sangat berkesan dimana kita sangat menyatuh dengan alam, berbaur riang bersama teman-teman yang lain dan bekerjasama yang baik dari setiap tim, yang mana pada masa moderen ini sudah jarang sekali bahkan mungkin saja sudah hilang untuk dimainkan oleh anak-anak zaman sekarang.
Seperlos permainan yang begitu menyatuh dengan alam, saat memainkannya kita akan mencari sebuah tempat yang bernuansa pepohonan seperti sebuah hutan yang paling penting mencari tempat persembunyian yang paling aman agar tidak mudah ditemukan.
Ma’asing salah satu permainan yang sangat seru pada masa dulu untuk dimainkan hampir setiap hari tidak pernah absen. Saat memainkannya kita akan mencari sebuah lapangan yang luas dan membagi dalam beberapa tim. Permainan ini mengajarkan kita bagaimana menaklukkan lawan dengan cara yang baik, meloloskan diri dari kepungan lawan.
Ma’boi pada permainan ini menguji keberanian, mental, juga bagaimana meyelamatkan diri atau menghindar dari serangan lawan dan memenangkan tim dengan kerjasama yang baik.
Pada sore hari di kampung halaman permainan ini tidak pernah absen saya mainkan dengan teman-teman yang lain. Masih sangat membekas disetiap memori ingatan saat menjelang sore hari teman-teman akan berteriak di lapangan siapa yang mau main seperlos, makasing atau makboi dengan sangat riang kami akan keluar dari rumah kami masing-masing dengan berlarian kelapangan. Saat permainan dimulai para orang tua turut menyaksikan permainan yang dimainkan mereka akan berubah menjadi suporter yang berteriak di pinggir-pinggir lapangan. Lari, meghindar cepat, ada lawan dibelakang, selamatkan temanmu suara-suara bising dari luar lapangan ini yang membuat permainan semakin seru dan bersemangat. Saat menjelang magrib tiba permainan akan dihentikan tetapi terkadang juga kami lupa waktu karena serunya alur permainan hingga rasanya tidak ingin mengakhirinya.
#TantanganKedua #KelasLiteraPandita

Hati Yang Seketika Itu Bergetar

Oleh Irmalayani S.B

Pagi menyapa dengan segala rahmat dan berkah dari yang Kuasa.
Sentuhannya yang dingin dan lembut begitu menentramkan jiwa.
Ribuan bisikan doa terus terpanjatkan kepadaNya.
Bersyukur masih diberi kesempatan merasakan indahnya pagi menyapa.

Ya! hujan baru sajalah redah.
Kulangkahkan kaki berjalan menikmati panorama alam yang begitu dingin, sembari menghirup udaranya yang menentramkan kalbu.

Aku duduk di atas ayunan yang entah tangan siapa yang merangkainya dengan sangat indah, di bawah pohon yang begitu rindang.
Aku mengayunnya secara perlahan-lahan, sembari melihat beragam ciptaan Tuhan bercengkrama dengan alamnya, berlalu lalang dengan berbagai kesibukannya, hanya senyum lebar yang sedari tadi menggantikan ucapan sapa.

Aku bercengkrama dengan alam yang begitu sejuk, dalam hati berkata sungguh maha besar engkau ya Allah atas segala isi langit dan bumi ini yang engkau ciptakan, tiba-tiba saja pikiran manyambariku untuk mencoba mengingat sesuatu. Seperti ada yang terlewati semalam tadi, tapi apa! tanyaku dalam hati.
Hingga lamunanku membawaku kembali pada posisi malam sebelum pagi menyapa.

…….💭🌘🌚
Mata yang tadinya redup ingin segera diistirahatkan seketika itu kembali terbuka dengan lebar.
Berulang kali kutatapi apa yang baru saja terlihat oleh mata.
Sungguh! itu membuatku tertegun sejenak bersama dengan heningnya malam.

Ma sya Allah kata pertama yang tanpa kusadari terucap olehku.
Hatiku bergetar seketika itu, saat kedua bola mata ini menyaksikan dari balik layar kaca Handphone yang kumiliki. Ada kedamaian marasuk dalam hati tiba-tiba terasa, kurasakan seketika itu mataku yang berkacakaca.
Sungguh itukah kamu! kata yang berulang kali terucap lirih dalam hati.

Rasanya mulutku bungkam tak bisa berkata banyak, dalam hati hanya lirih terucap kata, semoga Allah selalu menjagamu.
Menjaga hati, jiwa dan ragamu agar selalu terpaut kepadaNya.

Kembali kutersadar. Ya, seperti inilah roda kehidupan yang terus terayun dan berputar, dengan jejak-jejak langkah kaki manusia yang mengikutinya, atas segala KuasaNya segala hal bisa berubah.

Tiga Tahun Silam

Oleh Irmalayani S.B

Jelita seorang gadis cantik, ayu nan lugu dari sebuah desa yang sangat jauh. Masih teringat jelas diingatan tiga tahun silam, jelita sama seperti gadis yang lainnya yang baru menyelesaikan pendidikan tingkat SMPnya dia tidak tahu akan kemana selanjutnya untuk melanjutkan pendidikanya.

Waktu terus berganti detik, menit yang begitu panjang yang ia sudah lalui dengan banyak berbincang bersama kedua orang tua dan kerabat dekatnya mencari sebuah solusi akan kemanakah jelita melanjutkan pendidikannya. Hingga pada suatu hari dengan melalui berbagai problema jelita akan berangkat ke salah kota yang jauh dari kampung halamannya ditemani oleh kerabat dekatnya.

Pagi itu jelita akan berangkat dari rumahnya, suasana haru mewarnai keberangkatannya. Jelita seakan tidak ingin beranjak untuk pergi apalagi saat kedua matanya menatap lekat kedua orang tuanya dan melihat ada air mata dari setiap sudut-sudut matanya dan seakan-akan ingin ditumpahkan namun mereka berusaha untuk menahannya. Bagaimana tidak jelita begitu dekat dengan kedua orang tuanya apalagi kedua kakaknya tidak tinggal bersama mereka sehingga jelita seperti kakak pertama untuk kedua adiknya.

Waktu semakin menujukkan akan keberangkatan jelita, pelukan yang sangat erat dari kedua orang tuanya meangantar kepergiaannya. Jelita melangkahkan kedua kakinya menikmati panorama kampung halamannya dengan suasana pagi yang begitu dinging seakan suasana dingin itu ingin memelukknya dan mengatakan jangan lupakan tempat kelahirannmu. Air mata jelita masih terus membasahi kedua pipinya tangis yang disertai dengan senyum menyapa para kerabatnya, ada rasa perih meninggalkan keluarganya namun ia harus melakukannya untuk kelanjutan pendidikannya.

Keppe sebuah kampung yang begitu luas dengan suasana yang begitu tentram dan ramai , disitulah jelita menunggu mobil yang akan mengantarkannya bersama tantenya ke sebuah kota yang akan ditujunya. Suasana yang begitu ramai orang-orang yang berpendudukan di kampung itu berlalu lalang dengan berbagai kesibukan masing-masing sesekali jelita mendengar tawa mereka dan berbagai interaksi antar sesama penduduk kampung itu, namun jelita sama sekali tidak merasakan suasana keramaian itu pikirannya masih tertuju pada keluarga yang ia tinggalkan beberapa jam yang lalu.

Jelita tenggelam dalam lamunannya sehingga dia merasa seakan berada di gurun pasir yang tak dihuni oleh satu orangpun. Dalam lamunannya air mata sesekali keluar dari kedua matanya hingga membasahi kedua pipinya yang sangat ayu, hingga lamunan itu guyar disaat mobil kijang hitam berhenti tepat di depannya yang seakan mengatakan hai gadis cantik mengapa engkau begitu bersedih tersenyumlah, rupaya mobil itu yang akan membawa jelita semakin jauh dari kampung halamannya.

Jelita dan tantenya segera bergegas menaiki mobil kijang hitam itu sementara supir mobil sibuk mengangkat dan menyusun barang-barang ke bagasi mobil yang berada dibelakang. Jelita duduk disalah satu kursi dekat jendela sembari menyandarkan kepalanya hingga supir mobil kijang hitam itu menaiki mobilnya dan tanda-tanda akan segera ia lajukan, dan memang benar mobil itu perlahan-lahan menyusuri tiap-tiap jalan untuk menuju tempat yang akan dituju.

Jelita kembali tenggelam dalam lamunannya laju mobil yang begitu lembut membawanya teringat kembali akan keluarga yang ditinggalkannya, namun jelita tiba-tiba teringat akan sebuah pesan kedua orang tuanya pada malam sebelum keberangkatannya. Nak setiap perjalanan hidup akan mengajarimu dan memberikanmu setiap arti dan makna pada setiap fase yang akan kamu lalui. Akan begitu banyak rintangan yang akan kamu hadapi kedepannya, tetapi kamu harus sabar dan ikhlas menjalani semua yang akan terjadi, jangan perna lupa akan kewajibanmu sebagai ummat muslim, berpegang tegulah kamu kepada Allah karena sesungguhnya dia adalah sebaik-baiknya penolong. Doa kami akan selalu mengiringi setiap perjalanan hidupmu yang harus kamu lakukan adalah yakin dan percaya apa yang akan kamu lalui tersimpan sebuah cerita yang indah pada waktunya kelak akan kamu raih.

Jelita sadar dari lamunannya dengan derai air mata yang masih membasahi kedua pipinya. Kepalanya segera ia tegakkan ke atas hingga tak ada lagi sandaran yang ia lukakan, dalam hati ia berguman jelita lalui kehidupan ini dengan kuat banggakan kedua orang tuamu raih cerita indah itu seperti apa pesan mama dan papamu yang sudah ia katakan malam sebelum keberangatanmu. Senyum lebar rupanya sudah menghiasi bibir cantik jelita, sembari laju mobil terus menancap maju kedepan seakan merasakan suasana hati yang baru saja jelita ratapi.

Sebuah Ketulusan Hati

Oleh Irmalayani S.B

Bumi mengintari matahari.
Pagi dan malam berganti.
Tanpa jeda.
Tanpa lelah.
Tanpa mengharap apapun darinya.

Berjalanlah dengan Ikhlas.
Berbuat baiklah dengan tulus, bukan karena ada yang ingin di tuju kepada seseorang karena sejatinya ALLAH maha melihat apa yang tersembunyi di hati.

Mencintai dan dicintai adalah hal yang sudah pasti dialami setiap orang.
Namun tidak semua cinta tertera sebuah ketulusan di dalamnya.
Terkadang hanya sekedar permukaan saja tanpa sampai pada dasar yang seharusnya.

Namun percayalah jika dirimu dan hatimu berjalan lurus maka kamu akan dipertemukan atau menemukan dengan orang-orang yang serupa.
Namun, jika kamu tidak menemui hal yang sama percayalah ALLAH selalu mempunyai rencana yang terbaik.
Karena sebuah ketulusan hati tidak akan perna bisa ditukar dengan apapun.
Ketulusan hati bukan sebuah buatan namun murni hidup pada diri dan dasar hati.

Tuluslah maka ALLAH akan membuat penduduk bumi mencintaimu tanpa kamu minta.

Tiada yang Abadi

Oleh Irmalayani S.B

Embun pagi lambaian syahdu menyentuh kulit-kulit tipisku.
Aroma pagi yang begitu kuat memeluk erat tubuhku.
Sesekali kulangkahkan kakiku yang rasanya begitu membeku.
Suasana pagi yang begitu lembut untuk dinikmati sayang jika harus terlewati begitu saja.

Suara bising yang tak biasa terdengar saat pagi menyapa.
Riak canda dan tawa yang begitu indah terdengar.
Suasana yang begitu ramah dengan segala cengkramanya begitu memanjakan dalam ruang suasananya.

Kuingat lagi segalanya asing, membeku bahkan tak saling menyapa.
Tapi benar adanya tidak ada yang abadi segalanya lebur dalam satu rasa.
Rasa yang akan menjadi rindu pada lorong-lorong kenangannya.
Rindu yang akan selalu menghiasi dalam ruang geraknya.
Kenangan yang akan memenuhi setiap sudut memori.
Ah! ini jangan segera berlalu pergi ini akan sangat menyiksa dalam ruang rindunya.

Namun aku paham segalanya akan berlalu pergi membawa segala apa yang telah terlewati.

Sebuah Rasa

Oleh Irmalayani S.B

Pagi menyapa dengan segala peristiwa yang ada.
Sinar yang begitu lembut memancar kesetiap penjuru bumi.
Anak anak yang begitu riang memenuhi setiap lorong-lorong rumah bercengkrama dengan alamnya.

Aku duduk tersenyum memandangi segala peristiwa yang terjadi.
Tamu yang tak ku undang tiba-tiba menyapa memenuhi tiap sudut pikiranku.
Tamu yang sedang menyapa memudarkan senyuman yang baru saja terukir.
Sekuat aku mencoba melerainya namun dia semakin membawaku untuk melambung jauh.
Ah! rasanya ini tak asik bagiku.
Mengapa harus mengganggu pagiku.
Aku tak menyukainya namun pikiran yang memenuhi sudut memori ku masih tak ingin beranjak pergi.

Kusadari bahwa malam telah berganti segudang peristiwa di ruangnya baru saja berlalu.
Aku tahu bahwa apa yang terjadi tak semudah itu untuk hilang dari memori Ingatan.
Aku paham bahwa aku dan kamu adalah sebuah bunga yang sama memiliki rasa.
Aku paham dari tiap bait kata yang kamu sampaikan.
Aku bisa memahami ada makna yang tak ingin kamu ucapkan.
Ada cemburu dan amarah yang bergejolak dalam dirimu yang ingin kau lemparkan kepadaku.
Namun harus kamu pahami bahwa segala rasamu tak harus sekejam itu.

Namun aku mengerti dan kuterima itu.